Skip ke Konten

Summer Special | Get 50% Off | Code #GET50

Mengapa Bayi Sering Rewel Saat Cek Suhu Tubuh? Ini Penyebab dan Solusinya

31 Aug 2026 — Julaeha Info Kesehatan 4 menit baca

Mengapa Bayi Sering Rewel Saat Cek Suhu Tubuh? Ini Penyebab dan Solusinya
Sumber foto : https://www.halodoc.com, www.habbie.co.id
Bayangkan situasi ini: tengah malam, suhu tubuh si Kecil mendadak hangat. Rasa cemas langsung melanda, dan langkah pertama yang refleks Anda lakukan adalah mengambil termometer. Namun, begitu ujung termometer disentuhkan ke kulitnya, bayi justru menangis kencang, meronta, dan menolak diukur. Momen yang seharusnya memberikan kepastian justru berubah menjadi drama yang melelahkan bagi orang tua.

Bayi rewel saat diukur suhu tubuhnya bukan sekadar karena merasa lemas atau sakit, melainkan akibat respons alami terhadap sekor dingin mendadak dari sensor termometer, rasa terancam akibat gerakan tubuh yang ditahan secara tiba-tiba, serta rasa tidak nyaman pada area sensitif tubuh seperti ketiak, mulut, atau rektal (anus).

Penyebab Utama Bayi Risih dan Rewel Saat Ukur Suhu

Memahami alasan psikologis dan fisik di balik penolakan bayi dapat membantu orang tua bersikap lebih tenang. Berikut adalah alasan utama mengapa si Kecil sering kali menolak saat diukur suhunya:
  • Perubahan Suhu Mendadak (Sensasi Dingin): Ujung sensor termometer logam atau plastik umumnya memiliki suhu ruangan yang jauh lebih dingin daripada suhu permukaan kulit bayi yang sedang demam. Sentuhan dingin yang tiba-tiba ini memicu reaksi kaget (startle reflex).
  • Restriksi Gerak (Rasa Terancam): Untuk mengukur suhu ketiak atau rektal, orang tua harus memegang lengan atau menahan posisi tubuh bayi selama beberapa detik hingga menit. Bagi bayi, pembatasan gerak secara mendadak ini menimbulkan rasa takut dan tertekan.
  • Sensitivitas Area Tubuh: Area ketiak, lipatan paha, dan rektal memiliki banyak saraf sensitif. Pengukuran melalui rektal (anus) khususnya dapat menyebabkan rasa ganjal dan ketidaknyamanan yang memicu tangisan.
  • Sensitivitas Emosional: Bayi sangat peka terhadap ekspresi wajah dan tingkat stres orang tua. Ketika orang tua panik saat menyentuh bayi, si Kecil akan merespons emosi tersebut dengan gelisah dan menangis.

Jenis-Jenis Termometer untuk Bayi

Pemilihan jenis termometer yang tepat sangat menentukan tingkat kenyamanan si Kecil saat pemeriksaan.

1. Termometer Non-Kontak (Infrared / Dahi)

Menggunakan teknologi sinar inframerah untuk membaca radiasi panas dari dahi tanpa perlu menyentuh kulit.
Kelebihan: Sangat praktis, higienis dapat mengukur suhu dalam 1–3 detik tanpa membangunkan bayi yang sedang tidur.
Catatan: Pastikan jarak pengukuran sesuai dengan instruksi agar hasilnya presisi.


2. Termometer Telinga

Membaca gelombang panas dari dalam saluran telinga bayi.
Kelebihan: Proses pengukuran cepat (hitungan detik) dan memberikan hasil yang cukup akurat.
Catatan: Kurang disarankan untuk bayi di bawah usia 6 bulan karena saluran telinganya masih terlalu kecil.

Untuk menggunakan termometer digital telinga disarankan untuk menunggu hingga bayi berusia minimal 6 bulan. Karena bentuk dan ukuran saluran telinga bayi baru lahir yang belum berkembang sempurna membuat hasil pembacaan suhu menjadi kurang akurat. Mayo Clinic (Thermometer basics: Taking your child's temperature).

3. Termometer Kontak (Ketiak, Mulut, dan Rektal)

Termometer digital standar yang bersentuhan langsung dengan jaringan tubuh.
​
  • Ketiak (Aksila): Paling aman dan umum digunakan sehari-hari, meski membutuhkan waktu lebih lama (30–60 detik).
  • Rektal (Anus): Menjadi standar emas (gold standard) medis untuk keakuratan suhu inti tubuh pada bayi di bawah 3 bulan.
  • Mulut (Oral): Hanya cocok digunakan untuk anak yang sudah bisa diajak bekerja sama (biasanya di atas usia 4 tahun).


AAP secara eksplisit menyatakan bahwa pengukuran suhu melalui mulut tidak direkomendasikan untuk anak di bawah usia 4 tahun. Pada usia 4 tahun atau lebih, barulah mayoritas anak dianggap memiliki kemampuan motorik yang cukup untuk mengulum termometer di bawah lidah tanpa menggigitnya. American Academy of Pediatrics (AAP) melalui HealthyChildren.org.

Panduan Cara Mengukur Suhu Bayi Tanpa Rewel

Agar proses cek suhu berjalan lancar tanpa tangisan, terapkan langkah-langkah praktis berikut:
  1. Hangatkan Ujung Termometer: Gosokkan ujung sensor termometer di antara telapak tangan Anda selama beberapa detik sebelum ditempelkan ke kulit bayi untuk mengurangi efek dingin mendadak.
  2. Ukur Saat Bayi Tenang atau Tidur: Manfaatkan momen saat si Kecil sedang menyusu, digendong, atau tertidur lelap (terutama jika menggunakan termometer non-kontak).
  3. Gunakan Teknik Pengalihan Perhatian: Ajak bayi bicara dengan nada lembut, nyanyikan lagu kesukaannya, atau beri mainan yang menarik perhatiannya selama proses pengukuran.
  4. Peluk dan Beri Sentuhan Hangat: Lakukan skin-to-skin atau peluk bayi erat-erat agar ia merasa aman dan tidak merasa sedang ditahan secara paksa.

Berapa Suhu Tubuh Normal Bayi?

Memahami rentang suhu normal sangat penting agar orang tua tidak salah mengambil tindakan medis.

Kategori Suhu

Rentang Suhu (°C)

Status

Hipotermia

< 36,5 °C

Terlalu Dingin (Butuh Penanganan)

Normal

36,5 °C – 37,5 °C

Suhu Tubuh Sehat

Subfebris (Warm)

37,6 °C – 37,9 °C

Hangat / Pengawasan

Demam

≥ 38,0 °C

Demam (Perlu Evaluasi)

Kesimpulan

Respons bayi yang rewel saat diukur suhunya adalah hal yang sepenuhnya alami akibat ketidaknyamanan fisik dan rasa kaget, bukan bentuk penolakan. Kunci utama dalam menghadapi situasi ini adalah ketenangan orang tua serta pemilihan alat ukur suhu yang tepat dan ramah anak.

Untuk mendukung perawatan kesehatan si Kecil di rumah, sediakan selalu termometer berkualitas tinggi yang cepat, akurat, dan nyaman digunakan. Temukan berbagai pilihan termometer bayi digital dan inframerah standar medis terpercaya hanya di Galeri Medika. Lengkapi kebutuhan peralatan medis keluarga Anda sekarang agar momen memantau kesehatan si Kecil terasa lebih tenang dan menyenangkan.
Baca artikel lainnya:

Sumber artikel: www.mayoclinic.org, www.healthychildren.org, www.webmd.com, health.clevelandclinic.org

Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya